Archive for May, 2007

Bandung Terancam Gempa???

Wednesday, May 30th, 2007
BANDUNG, (PR).-


Kota Bandung dan sekitarnya terancam diguncang gempa besar berkekuatan 7,5


pada skala Richter (SR). Ancaman ini bisa muncul, jika terjadi pergerakan di


sejumlah lempeng penyusun patahan Cimandiri-Lembang. Jika ini terjadi, gempa


besar tersebut akan mengguncang cekungan Bandung. Selain Kota Bandung,


Cimahi, Padalarang, serta Lembang, gempa juga mengintai sejumlah wilayah di


Sukabumi, termasuk Palabuhanratu.




 

"Sesar Cimandiri-Lembang masih tergolong aktif. Yang menjadi masalah


terbesar, sesar ini dikelilingi wilayah padat penduduk, seperti Kota Bandung


dan Kota Cimahi," tutur pakar geoteknologi dari Lembaga Ilmu


PengetahuanIndonesia (LIPI), Dr. Danny


Hilman Natawidjaja, usai Seminar Mitigasi Bencana Geologi di Hotel Horison,


Bandung, Rabu (23/5).




 

Sesar (patahan) yang memanjang dari Palabuhanratu Kab. Sukabumi hingga


Maribaya Lembang itu tersusun oleh lebih dari lima segmen batuan. Salah


satunya, Segmen Maribaya-Cimahi, yang panjangnya mencapai 25 km. MenurutDanny,


jika terjadi secara bersamaan, pergerakan 3-4 segmen saja sudah bisa


menimbulkan gempa dengan kekuatan mencapai 7,5 pada skala Richter.




 

Berdasarkan penelusuran "PR", gempa berkekuatan 7-7,9 SR dapat mengakibatkan


kerusakan serius pada areal yang cukup luas. Diperkirakan, gempa ini bisa


menghancurkan sebagian besar gedung dan fondasinya. Bahkan, getarannya bisa


menimbulkan retakan tanah di areal yang cukup luas. Kerusakan yang


ditimbulkan bisa disetarakan dengan ledakan 160 juta ton TNT (*


trinitrotoluene*).




 

Kalaupun yang mengalami pergeseran hanya satu segmen, menurut Danny, gempayang


ditimbulkan bisa mencapai 6 SR. Bahkan, jika Segmen Maribaya-Cimahi yang


bergerak, kekuatan gempa bisa menembus angka 6,9 SR. Gempa ini cukup untuk


menimbulkan retakan tanah dan menghancurkan bangunan dalam radius


lebih dari100 kilometer.




 

Sayangnya, menurut Danny, hingga saat ini sesar Cimandiri-Lembang belum


mendapat perhatian serius dari pemerintah. Padahal, potensi bencana yang


akan ditimbulkan akibat pergerakan sesar tersebut cukup besar.




 

"Sejauh ini, pergerakan yang terjadi di sekitar patahan Cimandiri-Lembang


memang masih relatif aman. Bahkan, berdasarkan data 100 tahun terakhir,


belum diketahui adanya pergerakan yang bisa menimbulkan bencana besar,"


tuturnya.




 

Namun, mengingat padatnya wilayah di sekitar sesar alam itu dan tingginya


potensi gempa yang bisa ditimbulkan, ia menyarankan agar pemerintah segera


melakukan penelitian lanjutan. "Bagaimanapun kita tinggal di areal rawan


gempa. Kapan saja, sesar tersebut bisa mengalami peningkatan aktivitas,"


tuturnya.




 

Dia menilai, data yang ada saat ini belum mencukupi kebutuhan minimal untuk


digunakan sebagai acuan melakukan tindakan pencegahan maupun langkah


evakuasi. Padahal, selain kecepatan pergeseran, struktur tanah dan batuanyang


ada di sekitar wilayah gempa juga memiliki andil yang besar untuk menentukan


besarnya dampak yang ditimbulkan.




 

"Suatu gempa dengan kekuatan yang sama dapat menimbulkan efek yag berbeda,


bahkan di dua lokasi yang jaraknya berdekatan sekalipun," tutur Kepala Balai


Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Dr.


Antonius Ratdomopurbo.




 

Walaupun sebuah bangunan yang berjarak 10 km dari pusat gempa rusak parah,


menurut dia, tidak tertutup kemungkinan jika bangunan lain yang berjarak 3


km dari pusat gempa hanya mengalami retak ringan. Hal itu dipengaruhi


susunan sedimentasi tanah yang ada di lokasi tersebut.




 

"Karena itu, untuk melakukan mitigasi bencana perlu dilakukan penelitian


secara menyeluruh, termasuk struktur sedimentasi yang membangun lapisan


tanah di suatu daerah. Dengan demikian, pemerintah bisa dengan efektif


melakukan mitigasi bencana," katanya.




 

Penelitian menyeluruh di patahan Cimandiri-Lembang, menurut Danny,


diperlukan untuk memprediksi sumber gempa, efek yang ditimbulkan, dan


bagaimana kerusakan yang akan timbul. "Dengan demikian, proses mitigasi


bencana bisa dilakukan dengan efektif dan efisien," kata Danny